Kehidupan, Perasaan, Uncategorized

Biar Kata Nggak Ada yang Mbaca, Jangan Pernah Berhenti Menulis!

Hidup di era ini segalanya serba dinilai dari popularitas. Berapa jumlah likersnya? Berapa followernya? Berapa kali di share? Ya ya ya, nggak ada yang salah sama itu semua. Tapi coba tanyakan ke hatimu lagi, periksa lagi apa niatmu untuk menulis? Jika hanya ingin mendapatkan popularitas, ku sarankan agar segera kau kemasi alat-alatmu itu.

Menulis itu panggilan jiwa, kenapa manusia repot-repot harus menulis? Karena setiap kata yang kau tuangkan dalam tulisanmu akan kekal. Apalagi jika jiwamu masih muda, bukankah menulis adalah pilihan terbaik untuk merefleksikan diri?

Taukah kamu bagaimana cara Pak Habibie menenangkan jiwanya saat ia terguncang hebat dengan kepergian Bu Ainun? Kala itu beliau diberikan dua pilihan oleh sang dokter, menjalani terapi dari psikiater atau menucurahkan segala isi hatinya melalui tulisan? Dan beliau cerdas dengan pilihannya. Karya best seller Habibi Ainun yang bahkan diterbitkan dalam bentuk film itu, siapa yang menyangka jika latar belakang pembuatan novelnya berasal dari terapi untuk pengobatan hati?

Bagiku menulis sah-sah saja untuk membahas topik apapun itu. Mau dipake untuk berdakwah, berpolitik ria, bersajak gembira, bersyair sendu, curhatan menye-menye, semua sah-sah saja jika ingin kau tulis. Bagiku hanya ada dua pantangan dalam pemilihan topik menulis. Yang satu adalah berita hoax dan yang kedua adalah menulis untuk menjatuhkan orang lain. Ya walaupun terkadang sebagian tulisan berbau patah hati akan terkesan untuk menjatuhkan sang mantan, percayalah jika makna yang ingin disampaikan sang penulis adalah melepaskan segala rasa sakit hati yang ia alami. Karena bagi orang yang gemar menulis, tulisan menye-menye tentnag curhatan patah hati atau pun kasmaran sebenarnya difokuskan pada dirinya sendiri sebagai sudut pandang pertama dan lakon utama dalam tulisannya.

Lantas kenapa harus menulis? Jika sebagian orang beranggapan gambar akan memberikanmu kenangan yang abadi, bagiku tulisan juga bisa disebut sebagai kenangan abadi. Seperti buku harian, aku hanya ingin menulis di sela-sela padatnya hari. Menulis saat menemukan hal-hal yang menarik dan menggelitik. Menulis saat tak ku temukan bahan bacaan yang ingin ku baca. Menulis walaupun hanya aku pembacanya.

Aku hanya ingin terus menulis, tak peduli orang mencemooh tulisanku yang terkadang berbau sendu. Terus menulis tak peduli berapa banyak komentar, like, atau share yang ku dapatkan. Karena bagiku menulis sudah seperti candu, obat penenang saat hariku tak berjalan sesuai kehendakku, saat bahagia datang menghampiri, segalanya akan tercurahkan lewat sebuah tulisan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s