Resensi Film, Uncategorized

Istirahatlah Kata-Kata

Sudahkah kalian melihat sebuah Film Cerdas tahun ini? Sebuah film yang berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Film ini berlatar belakang kehidupan Orde Baru yang sarat kontroversial dan misteri.  Tentu saja kehidupan di zaman itu tak dapat disamakan dengan kehidupan masa kini. Ada banyak perbedaan tergambar di dalamnya, salah satunya yang paling terkenal adalah kebebasan untuk berpendapat.

Sebagai salah satu anak dari generasi 90 an, seringkali saya mendengar cerita dari Bapak Ibu tentang hilangnya para penyair yang bersuara vokal, salah satunya adalah sosok Wiji Thukul yang diangkat dalam film ini. Wiji Thukul pernah menulis sebuah bait yang cukup vokal yakni “Jangan kau penjarakan ucapanmu, jika kau menghamba pada ketakutan, kita hanya akan memperpanjang barisan perbudakan.”

Istirahatlah Kata-Kata, film ini mengisahkan tentang Wiji Thukul sebagai sosok aktivis  di zaman Orde Baru yang berasal dari Solo dan terkenal sebagai seorang yang berani dan vocal di masa yang serba membatasi segala kebebasan untuk berpendapat. Ia juga bisa diesbut sebagai sosok yang berperan dalam perkembangan demokrasi di Negara Indonesia. Sosoknya menyimpan banyak cerita sehingga membuat Anggi Noen sang sutradara tergerak untuk mengangkatnya ke dalam sebuah film.

Pada tanggal 27 Juli 1996, Wiji Thukul melarikan dirir ke Pontianak sebelum akhirnya pada tahun 1998 ia dinyatakan hilang secara misterius bersama dengan 12 aktivis vokal lainnya. Bahkan hingga saat inipun ia masih belum diketahui keberadaannya. Adalah Sipon istri dari Wiji yang selalu setia menanti kepulangannya dengan cemas dan rindu yang disambut dengan cibiran dari tetangga.

Film ini dimainkan oleh Gunawan Maryanto atau  Cindil dengan sangat apik. Karakternya yang sangat menjiwai seolah ia adalah sosok Wiji yang sebenarnya. Selain Gunawan, adapula sederet pemain seperti Marisa Anita, Melanie Subono, Eduwart Manalu, Arswendy Nasution, dan Davi Yunan. Film yang berdurasi 90 menit ini sukses mengantarkan penontonnya kepada gerbang argumentasi pro dan kontra yang beragam. Dikisahkan di awal cerita tentang kronologi peristiwa 1998, kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang Wiji dengan karya puisinya. Tak lupa penulis naskah juga menceritakan kisah pelarian Wiji ke Pontianak hingga upayanya untuk menyelamatkan diri dengan cara mengganti identitas.

Konflik cerita semakin dipertajam dengan kekhawatiran Sipon karena terus didtangi banyak pihak yang mencari Wiji. Mulai dari polisi, Intel, hingga sosok bugar dan menyeramkan yang membuat batin Sipon semakin bergejolak. Semua konflik dikemas dengan dramatis dan diwarnai dengan deretan kata mutiara dari puisi yang ditulis Wiji melalui Voice over.

Sebagai penikmat film, saya rasa film ini sangat layak untuk diapresiasi dengan baik. Film ini sekaligus dapat disebut sebagai salah satu film sejarah terbaik yang mampu membuat emosi penontonnya bergejolak dan meningkatkan rasa cinta untuk menonton karya  film sejarah Indonesia. Oleh karena itu, bagi kalian yang belum sempat menonton, sempatkanlah atau kalian hanya akan menyesal karena melewatkan tontonan yang berkualitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s