Move On, Uncategorized

Untukmu Laki-Laki yang Pernah Menawarkan Masa Depan, Lalu Mundur Tanpa Alasan

Awalnya, kita selalu mencari yang sama.

Pun jika tak sama, maka kita tetap mengusahakan untuk mencari yang sama dalam berbagai hal, khususnya soal selera. Selera apapun itu.

Aku mengingatnya saat hati kita saling terbuka, lembut, penuh toleransi, sangat pengertian, saling memahami dan tak mengenal sebuah perselisihan. Segala perselisihan yang tercipta akan tergusur begitu saja dengan saling mengalah dan menebar senyum ceria. Sungguh awalnya semua sangat manis, tapi sayang berakhir miris.

Sampai akhirnya waktu mulai mengurai kebenaran, menyingkap tabir, dan menyibak segala yang tersembunyi selama ini. Segala bujuk rayu manis yang dilontarkan saat pendekatan mulai ditanggalkan, rasa simpati ditahankan hingga bara asmara dimatikan.

Perlahan sosoknya yang baru mulai kau saksikan. Khayalan akan sosoknya yang sempurna mulai memudar. Jujur saja, sesungguhnya ia tak sepenuhnya berubah, hanya mungkin begitulah dia yang selama ini kita kenal.

Ada rasa takjub, tak percaya, bahkan beberapa tak bisa menerima sosoknya dengan wajah baru. Amat sangat beruntung jika yang kita jumpai adalah pribadi baru yang lebih menyenangkan.

Tapi bagaimana bila yang terjadi adalah semakin kenal semakin binal. Semakin tau semakin ingin jauh, semakin lama semakin tak ingin bersama? Mungkin kita bisa menyebutnya celaka atau badai hebat.

Dan akhirnya, kita tiba pada masa pencarian perbedaan, melupakan semua persamaan. Kita larut dalam mencari yang berbeda, menonjolkan ketidakcocokan, meruncingkan masalah, hingga mencari alasan agar nampak tidak sejalan. Hingga yang tersisa hanyalah hati yang mulai mengeras, possesif, egois, dan menyalahkan apa saja yang terkait dengan dirinya. Tak satupun yang bersuka rela untuk mengalah apalagi untuk mengucap kata maaf.

Lalu dengan cepat otak membandingkannya dengan kisah di masa lampau yang indah atau lebih parahnya dengan sosok yang hadir di antara rumitnya hubungan kita. Sosok yang tak kita sadari telah kita jadikan sebagai pendengar baru untuk kisah runyam hubungan kita, orang ketiga.

Parahnya berakhir dengan pengandaian akan janji kebersamaan yang lebih indah jika bersamanya. Padahal, sebaik-baik kekasih di masa lalu, masih lebih baik cinta yang kini bersamamu, dan seindah-indahnya godaan harapan kisah yang baru, tidak lebih indah dari apa yang sekarang telah bersatu

Masa lalu tempatnya di belakang, boleh sekali dua kalli kita tengok hanya untuk merapikan kenangannya, bukan untuk mengulangnya. Kalaupun ia harus tumbuh lagi, belum tentu seindah khayalan, belum tentu setinggi pengandaian. Maka syukurilah siapa saja yang bertahan untukmu saat ini dengan segala kurangmu.

Jika ia yang kau temani  mampu meyakinkanmu, menjanjikanmu ke tempat yang lebih indah, menunjukkan harapan dan perlahan mewujudkannya meski harus terseok-seok, maka temanilah dia, karena itulah nikmatnya sebuah perjuangan.

Namun sebaliknya, bila ia hanya bisa berkhayal dan membuat janji palsu apalagi selalu mementingkan diri sendiri, segera selamatkan diri sebelum tenggelam lebih dalam terjebak dalam waktu yang lebih lama.

Tapi bila hatimu telah memutuskan sebuah pilihan entah itu untuk bertahan atau melepaskan. Berhenti mengeluhkan penderitaan, karena kau yang memilihnya.

Kalau kau telah memutuskan untuk percaya, sekali lagi temani dia untuk berjuang bersama. Bila tidak, sudahi dengan cara yang baik, sebab mengeluh tak akan mengubah apapun. Mari berpikir rasional, kalau bersama membuat bahagia ya jalani, tapi jika bersama hanya untuk menyakiti maka sudahi sampai di sini.

Menderita kok betah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: